suratyasin.net
Surat Yasin Arab, Latin dan Terjemah Bahasa Indonesia

Surat Yasin

Surat Yasin Arab, Latin dan Terjemah Bahasa Indonesia



بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Bismillah-irokhmāni-rrokhim

Dengan Nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang



Ayat (1)

يٰسۤ ۚ

Yā sīn.

Yā Sīn (ayat mutasyabihaat).


(2) Ayat

وَالْقُرْاٰنِ الْحَكِيْمِۙ

Wal-qur’ānil-ḥakīm(i).

Demi Al-Qur’an yang menghukumi,


Ayat (3)

اِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِيْنَۙ

Innaka laminal-mursalīn(a).

sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) termasuk orang yang diutus


Ayat (4)

عَلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍۗ

‘Alā ṣirāṭim mustaqīm(in).

diutus atas jalan yang lurus,


Ayat (5)

تَنْزِيْلَ الْعَزِيْزِ الرَّحِيْمِۙ

Tanzīlal-‘azīzir-raḥīm(i).

yang mana alquran diturunkan oleh allah yang maha mulia lagi maha menyayangi,


Ayat (6)

لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَّآ اُنْذِرَ اٰبَاۤؤُهُمْ فَهُمْ غٰفِلُوْنَ

Litunżira qaumam mā unżira ābā’uhum fahum gāfilūn(a).

Tujuannya engkau diutus untuk memberi kabar penakut pada kaum yang mana bapak-bapak mereka belum diberi kabar penakut dan mereka termasuk orang-orang yang lupa


Ayat (7)

لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلٰٓى اَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ

Laqad ḥaqqal-qaulu ‘alā akṡarihim fahum lā yu’minūn(a).

Sebab, sungguh-sungguh telah benar ucapan Allah untuk menyiksa yang akhirnya kebanyakan mereka tidak beriman


Ayat (8)

اِنَّا جَعَلْنَا فِيْٓ اَعْنَاقِهِمْ اَغْلٰلًا فَهِيَ اِلَى الْاَذْقَانِ فَهُمْ مُّقْمَحُوْنَ

Innā ja‘alnā fī a‘nāqihim aglālan fa hiya ilal-ażqāni fahum muqmaḥūn(a).

Dan Sungguh, Kami Allah telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, karena itu mereka tertengadah


Ayat (9)

وَجَعَلْنَا مِنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ سَدًّا وَّمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَاَغْشَيْنٰهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُوْنَ

Wa ja‘alnā mim baini aidīhim saddaw wa min khalfihim saddan fa agsyaināhum fahum lā yubṣirūn(a).

Kami Alla memasang penghalang di hadapan mereka dan di belakang mereka, sehingga Kami Allah menutupi (pandangan) mereka. Mereka pun tidak dapat melihat kebenaran.


Ayat (10)

وَسَوَاۤءٌ عَلَيْهِمْ ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ

Wa sawā’un ‘alaihim a’anżartahum am lam tunżirhum lā yu’minūn(a).

dan akhirnya, sama saja bagi mereka, apakah engkau (Nabi Muhammad) memberi kabar penakut (peringatan) kepada mereka atau tidak. Mereka (tetap) tidak akan beriman.


Ayat (11)

اِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمٰنَ بِالْغَيْبِۚ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَّاَجْرٍ كَرِيْمٍ

Innamā tunżiru manittaba‘aż-żikra wa khasyiyar-raḥmāna bil-gaib(i), fa basysyirhu bimagfiratiw wa ajrin karīm(in).

Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) hanya (bisa) memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikutinya dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pengasih tanpa melihat-Nya. Berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.


Ayat (12)

اِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتٰى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوْا وَاٰثَارَهُمْۗ وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ فِيْٓ اِمَامٍ مُّبِيْنٍ ࣖ

Innā naḥnu nuḥyil-mautā wa naktubu mā qaddamū wa āṡārahum, wa kulla syai’in aḥṣaināhu fī imāmim mubīn(in).

Sesungguhnya Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati dan Kami (pulalah) yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata (Lauh Mahfuz).


Ayat (13)

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَّثَلًا اَصْحٰبَ الْقَرْيَةِۘ اِذْ جَاۤءَهَا الْمُرْسَلُوْنَۚ

Waḍrib lahum maṡalan aṣḥābal-qaryah(ti), iż jā’ahal-mursalūn(a).

Buatlah suatu perumpamaan bagi mereka (kaum kafir Makkah), yaitu penduduk suatu negeri, ketika para utusan datang kepada mereka,


Ayat (14)

اِذْ اَرْسَلْنَآ اِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوْهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوْٓا اِنَّآ اِلَيْكُمْ مُّرْسَلُوْنَ

Iż arsalnā ilaihimuṡnaini fa każżabūhumā fa ‘azzaznā biṡāliṡin faqālū innā ilaikum mursalūn(a).

(yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya. Kemudian Kami menguatkan dengan (utusan) yang ketiga. Maka, ketiga (utusan itu) berkata, “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.”


Ayat (15)

قَالُوْا مَآ اَنْتُمْ اِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُنَاۙ وَمَآ اَنْزَلَ الرَّحْمٰنُ مِنْ شَيْءٍۙ اِنْ اَنْتُمْ اِلَّا تَكْذِبُوْنَ

Qālū mā antum illā basyarum miṡlunā, wa mā anzalar-raḥmānu min syai'(in), in antum illā takżibūn(a).

Mereka (penduduk negeri) menjawab, “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami. (Allah) Yang Maha Pengasih tidak (pernah) menurunkan sesuatu apa pun. Kamu hanyalah berdusta.”


Ayat (16)

قَالُوْا رَبُّنَا يَعْلَمُ اِنَّآ اِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُوْنَ

Qālū rabbunā ya‘lamu innā ilaikum lamursalūn(a).

Mereka (para rasul) berkata, “Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami benar-benar para utusan(-Nya) kepadamu.


Ayat (17)

وَمَا عَلَيْنَآ اِلَّا الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُ

Wa mā ‘alainā illal-balāgul-mubīn(u).

Adapun kewajiban kami hanyalah menyampaikan (perintah Allah) yang jelas.”


Ayat (18)

قَالُوْٓا اِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْۚ لَىِٕنْ لَّمْ تَنْتَهُوْا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِّنَّا عَذَابٌ اَلِيْمٌ

Qālū innā taṭayyarnā bikum, la’il lam tantahū lanarjumannakum wa layamassannakum minnā ‘ażābun alīm(un).

Mereka (penduduk negeri) menjawab, “Sesungguhnya kami bernasib malang karenamu. Sungguh, jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami merajam kamu dan kamu pasti akan merasakan siksaan yang pedih dari kami.”


Ayat (19)

قَالُوْا طَاۤىِٕرُكُمْ مَّعَكُمْۗ اَىِٕنْ ذُكِّرْتُمْۗ بَلْ اَنْتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُوْنَ

Qālū ṭā’irukum ma‘akum, a’in żukkirtum, bal antum qaumum musrifūn(a).

Mereka (para rasul) berkata, “Kemalangan kamu itu (akibat perbuatan) kamu sendiri. Apakah karena kamu diberi peringatan, (lalu kamu menjadi malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.”


Ayat (20)

وَجَاۤءَ مِنْ اَقْصَا الْمَدِيْنَةِ رَجُلٌ يَّسْعٰى قَالَ يٰقَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِيْنَۙ

Wa jā’a min aqṣal-madīnati rajuluy yas‘ā qāla yā qaumittabi‘ul-mursalīn(a).

Datanglah dengan bergegas dari ujung kota, seorang laki-laki. Dia berkata, “Wahai kaumku, ikutilah para rasul itu!


Ayat (21)

اتَّبِعُوْا مَنْ لَّا يَسْـَٔلُكُمْ اَجْرًا وَّهُمْ مُّهْتَدُوْنَ ۔

Ittabi‘ū mal lā yas’alukum ajraw wa hum muhtadūn(a).

Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan (dalam berdakwah) kepadamu. Mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.


Ayat (22)

وَمَا لِيَ لَآ اَعْبُدُ الَّذِيْ فَطَرَنِيْ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

Wa mā liya lā a‘budul-lażī faṭaranī wa ilaihi turja‘ūn(a).

Apa (alasanku) untuk tidak menyembah (Allah) yang telah menciptakanku dan hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.


Ayat (23)

ءَاَتَّخِذُ مِنْ دُوْنِهٖٓ اٰلِهَةً اِنْ يُّرِدْنِ الرَّحْمٰنُ بِضُرٍّ لَّا تُغْنِ عَنِّيْ شَفَاعَتُهُمْ شَيْـًٔا وَّلَا يُنْقِذُوْنِۚ

A’attakhiżu min dūnihī ālihatan iy yuridnir-raḥmānu biḍurril lā tugni ‘annī syafā‘atuhum syai’aw wa lā yunqiżūn(i).

Mengapa aku (harus) mengambil sembahan-sembahan selain-Nya? Jika (Allah) Yang Maha Pengasih menghendaki bencana terhadapku, pasti pertolongan mereka tidak berguna sama sekali bagi diriku dan mereka (juga) tidak dapat menyelamatkanku.


Ayat (24)

اِنِّيْٓ اِذًا لَّفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

Innī iżal lafī ḍalālim mubīn(in).

Sesungguhnya aku (jika berbuat) begitu, pasti berada dalam kesesatan yang nyata.


Ayat (25)

اِنِّيْٓ اٰمَنْتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُوْنِۗ

Innī āmantu birabbikum fasma‘ūn(i).

Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu. Maka, dengarkanlah (pengakuan)-ku.”


Ayat (26)

قِيْلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ ۗقَالَ يٰلَيْتَ قَوْمِيْ يَعْلَمُوْنَۙ

Qīladkhulil-jannah(ta), qāla yā laita qaumī ya‘lamūn(a).

Dikatakan (kepadanya), “Masuklah ke surga.” Dia (laki-laki itu) berkata, “Aduhai, sekiranya kaumku mengetahui


Ayat (27)

بِمَا غَفَرَ لِيْ رَبِّيْ وَجَعَلَنِيْ مِنَ الْمُكْرَمِيْنَ

Bimā gafaralī rabbī wa ja‘alanī minal-mukramīn(a).

(bagaimana) Tuhanku mengampuniku dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan.”


Ayat (28)

۞ وَمَآ اَنْزَلْنَا عَلٰى قَوْمِهٖ مِنْۢ بَعْدِهٖ مِنْ جُنْدٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَمَا كُنَّا مُنْزِلِيْنَ

Wa mā anzalnā ‘alā qaumihī mim ba‘dihī min jundim minas-samā’i wa mā kunnā munzilīn(a).

Setelah dia (dibunuh), Kami tidak menurunkan satu pasukan pun dari langit kepada kaumnya dan Kami tidak perlu menurunkannya.


Ayat (29)

اِنْ كَانَتْ اِلَّا صَيْحَةً وَّاحِدَةً فَاِذَا هُمْ خٰمِدُوْنَ

In kānat illā ṣaiḥataw wāḥidatan fa’iżā hum khāmidūn(a).

(Azab mereka) itu cukup dengan satu teriakan saja. Maka, seketika itu mereka mati.


Ayat (30)

يٰحَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِۚ مَا يَأْتِيْهِمْ مِّنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا كَانُوْا بِهٖ يَسْتَهْزِءُوْنَ

Yā ḥasratan ‘alal-‘ibād(i), mā ya’tīhim mir rasūlin illā kānū bihī yastahzi’ūn(a).

Alangkah besar penyesalan diri para hamba itu. Setiap datang seorang rasul kepada mereka, mereka selalu memperolok-olokkannya.


Ayat (31)

اَلَمْ يَرَوْا كَمْ اَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِّنَ الْقُرُوْنِ اَنَّهُمْ اِلَيْهِمْ لَا يَرْجِعُوْنَ

Alam yarau kam ahlaknā qablahum minal-qurūni annahum ilaihim lā yarji‘ūn(a).

Tidakkah mereka mengetahui berapa banyak umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan. Mereka (setelah binasa) tidak ada yang kembali kepada mereka (di dunia).


Ayat (32)

وَاِنْ كُلٌّ لَّمَّا جَمِيْعٌ لَّدَيْنَا مُحْضَرُوْنَ ࣖ

Wa in kullul lammā jamī‘ul ladainā muḥḍarūn(a).

Tidak ada satu (umat) pun, kecuali semuanya akan dihadirkan kepada Kami (untuk dihisab).


Ayat (33)

وَاٰيَةٌ لَّهُمُ الْاَرْضُ الْمَيْتَةُ ۖاَحْيَيْنٰهَا وَاَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبًّا فَمِنْهُ يَأْكُلُوْنَ

Wa āyatul lahumul-arḍul-maitah(tu), aḥyaināhā wa akhrajnā minhā ḥabban faminhu ya’kulūn(a).

Suatu tanda (kekuasaan-Nya) bagi mereka adalah bumi yang mati (tandus lalu) Kami menghidupkannya dan mengeluarkan darinya biji-bijian kemudian dari (biji-bijian) itu mereka makan.


Ayat (34)

وَجَعَلْنَا فِيْهَا جَنّٰتٍ مِّنْ نَّخِيْلٍ وَّاَعْنَابٍ وَّفَجَّرْنَا فِيْهَا مِنَ الْعُيُوْنِۙ

Wa ja‘alnā fīhā jannātim min nakhīliw wa a‘nābiw wa fajjarnā fīhā minal-‘uyūn(i).

Kami (juga) menjadikan padanya (bumi) kebun-kebun kurma dan anggur serta Kami memancarkan padanya beberapa mata air


Ayat (35)

لِيَأْكُلُوْا مِنْ ثَمَرِهٖۙ وَمَا عَمِلَتْهُ اَيْدِيْهِمْ ۗ اَفَلَا يَشْكُرُوْنَ

Liya’kulū min ṡamarihī wa mā ‘amilathu aidīhim, afalā yasykurūn(a).

agar mereka dapat makan dari buahnya, dan dari hasil usaha tangan mereka. Mengapa mereka tidak bersyukur?


Ayat (36)

سُبْحٰنَ الَّذِيْ خَلَقَ الْاَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْۢبِتُ الْاَرْضُ وَمِنْ اَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُوْنَ

Subḥānal-lażī khalaqal-azwāja kullahā mimmā tumbitul-arḍu wa min anfusihim wa mimmā lā ya‘lamūn(a).

Mahasuci (Allah) yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.


Ayat (37)

وَاٰيَةٌ لَّهُمُ الَّيْلُ ۖنَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَاِذَا هُمْ مُّظْلِمُوْنَۙ

Wa āyatul lahumul-lailu naslakhu minhun-nahāra fa’iżā hum muẓlimūn(a).

Suatu tanda juga (atas kekuasaan Allah) bagi mereka adalah malam. Kami pisahkan siang dari (malam) itu. Maka, seketika itu mereka (berada dalam) kegelapan.


Ayat (38)

وَالشَّمْسُ تَجْرِيْ لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ۗذٰلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ الْعَلِيْمِۗ

Wasy-syamsu tajrī limustaqarril lahā, żālika taqdīrul-‘azīzil-‘alīm(i).

(Suatu tanda juga atas kekuasaan Allah bagi mereka adalah) matahari yang berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.


Ayat (39)

وَالْقَمَرَ قَدَّرْنٰهُ مَنَازِلَ حَتّٰى عَادَ كَالْعُرْجُوْنِ الْقَدِيْمِ

Wal-qamara qaddarnāhu manāzila ḥattā ‘āda kal-‘urjūnil-qadīm(i).

(Begitu juga) bulan, Kami tetapkan bagi(-nya) tempat-tempat peredaran sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir,) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua.


Ayat (40)

لَا الشَّمْسُ يَنْۢبَغِيْ لَهَآ اَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا الَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ ۗوَكُلٌّ فِيْ فَلَكٍ يَّسْبَحُوْنَ

Lasy-syamsu yambagī lahā an tudrikal-qamara wa lal-lailu sābiqun-nahār(i), wa kullun fī falakiy yasbaḥūn(a).

Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.


Ayat (41)

وَاٰيَةٌ لَّهُمْ اَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِى الْفُلْكِ الْمَشْحُوْنِۙ

Wa āyatul lahum annā ḥamalnā żurriyyatahum fil-fulkil-masyḥūn(i).

Suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah bahwa Kami mengangkut keturunan mereka dalam kapal yang penuh muatan.


Ayat (42)

وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِّنْ مِّثْلِهٖ مَا يَرْكَبُوْنَ

Wa khalaqnā lahum mim miṡlihī mā yarkabūn(a).

(Begitu juga) Kami menciptakan untuk mereka dari jenis itu angkutan (lain) yang mereka kendarai.


Ayat (43)

وَاِنْ نَّشَأْ نُغْرِقْهُمْ فَلَا صَرِيْخَ لَهُمْ وَلَاهُمْ يُنْقَذُوْنَۙ

Wa in nasya’ nugriqhum falā ṣarīkha lahum wa lā hum yunqażūn(a).

Jika Kami menghendaki, Kami akan menenggelamkan mereka. Kemudian, tidak ada penolong bagi mereka dan tidak (pula) mereka diselamatkan.


Ayat (44)

اِلَّا رَحْمَةً مِّنَّا وَمَتَاعًا اِلٰى حِيْنٍ

Illā raḥmatam minnā wa matā‘an ilā ḥīn(in).

Akan tetapi, (Kami menyelamatkan mereka) karena rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberi mereka kesenangan hidup sampai waktu tertentu.


Ayat (45)

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّقُوْا مَا بَيْنَ اَيْدِيْكُمْ وَمَا خَلْفَكُمْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Wa iżā qīla lahumuttaqū mā baina aidīkum wa mā khalfakum la‘allakum turḥamūn(a).

Ketika dikatakan kepada mereka, “Takutlah kamu akan (siksa) yang ada di hadapanmu (di dunia) dan azab yang ada di belakangmu (akhirat) agar kamu mendapat rahmat,” (maka mereka berpaling).


Ayat (46)

وَمَا تَأْتِيْهِمْ مِّنْ اٰيَةٍ مِّنْ اٰيٰتِ رَبِّهِمْ اِلَّا كَانُوْا عَنْهَا مُعْرِضِيْنَ

Wa mā ta’tīhim min āyatim min āyāti rabbihim illā kānū ‘anhā mu‘riḍīn(a).

Tidak satu pun dari tanda-tanda (kebesaran) Tuhan datang kepada mereka, kecuali mereka berpaling darinya.


Ayat (47)

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ اَنْفِقُوْا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّٰهُ ۙقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنُطْعِمُ مَنْ لَّوْ يَشَاۤءُ اللّٰهُ اَطْعَمَهٗٓ ۖاِنْ اَنْتُمْ اِلَّا فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

Wa iżā qīla lahum anfiqū mimmā razaqakumullāh(u), qālal-lażīna kafarū lil-lażīna āmanū anuṭ‘imu mal lau yasyā’ullāhu aṭ‘amah(ū), in antum illā fī ḍalālim mubīn(in).

Apabila dikatakan kepada mereka, “Infakkanlah sebagian rezeki yang diberikan Allah kepadamu,” orang-orang yang kufur itu berkata kepada orang-orang yang beriman, “Apakah pantas kami memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki, Dia akan memberinya makan? Kamu benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”


Ayat (48)

وَيَقُوْلُوْنَ مَتٰى هٰذَا الْوَعْدُ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

Wa yaqūlūna matā hāżal-wa‘du in kuntum ṣādiqīn(a).

Mereka berkata, “Kapankah janji (hari Kebangkitan) ini (terjadi) jika kamu orang-orang benar?”


Ayat (49)

مَا يَنْظُرُوْنَ اِلَّا صَيْحَةً وَّاحِدَةً تَأْخُذُهُمْ وَهُمْ يَخِصِّمُوْنَ

Mā yanẓurūna illā ṣaiḥataw wāḥidatan ta’khużuhum wa hum yakhiṣṣimūn(a).

Mereka hanya menunggu satu teriakan yang akan membinasakan mereka saat mereka (sibuk) bertengkar (tentang urusan dunia).


Ayat (50)

فَلَا يَسْتَطِيْعُوْنَ تَوْصِيَةً وَّلَآ اِلٰٓى اَهْلِهِمْ يَرْجِعُوْنَ ࣖ

Falā yastaṭī‘ūna tauṣiyataw wa lā ilā ahlihim yarji‘ūn(a).

Oleh sebab itu, mereka tidak dapat berwasiat dan tidak dapat kembali kepada keluarganya.


Ayat (51)

وَنُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَاِذَا هُمْ مِّنَ الْاَجْدَاثِ اِلٰى رَبِّهِمْ يَنْسِلُوْنَ

Wa nufikha fiṣ-ṣūri fa’iżā hum minal-ajdāṡi ilā rabbihim yansilūn(a).

Sangkakala pun ditiup dan seketika itu mereka bergerak cepat dari kuburnya menuju kepada Tuhannya.


Ayat (52)

قَالُوْا يٰوَيْلَنَا مَنْۢ بَعَثَنَا مِنْ مَّرْقَدِنَا ۜهٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمٰنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُوْنَ

Qālū yā wailanā mam ba‘aṡanā mim marqadinā…hāżā mā wa‘adar-raḥmānu wa ṣadaqal-mursalūn(a).

Mereka berkata, “Celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” (Lalu, dikatakan kepada mereka,) “Inilah yang dijanjikan (Allah) Yang Maha Pengasih dan benarlah para rasul(-Nya).”


Ayat (53)

اِنْ كَانَتْ اِلَّا صَيْحَةً وَّاحِدَةً فَاِذَا هُمْ جَمِيْعٌ لَّدَيْنَا مُحْضَرُوْنَ

In kānat illā ṣaiḥataw wāḥidatan fa’iżā hum jamī‘ul ladainā muḥḍarūn(a).

Teriakan itu hanya sekali saja, maka seketika itu mereka semua dihadapkan kepada Kami (untuk dihisab).


Ayat (54)

فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْـًٔا وَّلَا تُجْزَوْنَ اِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

Fal-yauma lā tuẓlamu nafsun syai’aw wa lā tujzauna illā mā kuntum ta‘malūn(a).

Pada hari itu tidak ada sama sekali orang yang dirugikan sedikit pun. Kamu tidak akan diberi balasan, kecuali atas apa yang telah kamu kerjakan.


Ayat (55)

اِنَّ اَصْحٰبَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِيْ شُغُلٍ فٰكِهُوْنَ ۚ

Inna aṣḥābal-jannatil-yauma fī syugulin fākihūn(a).

Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu berada dalam kesibukan (sehingga tidak sempat berpikir tentang penghuni neraka) lagi bersenang-senang.


Ayat (56)

هُمْ وَاَزْوَاجُهُمْ فِيْ ظِلٰلٍ عَلَى الْاَرَاۤىِٕكِ مُتَّكِـُٔوْنَ ۚ

Hum wa azwājuhum fī ẓilālin ‘alal-arā’iki muttaki’ūn(a).

Mereka dan pasangan-pasangannya berada dalam tempat yang teduh sambil berbaring di atas ranjang berkelambu.


Ayat (57)

لَهُمْ فِيْهَا فَاكِهَةٌ وَّلَهُمْ مَّا يَدَّعُوْنَ ۚ

Lahum fīhā fākihatuw wa lahum mā yadda‘ūn(a).

Di (surga) itu mereka memperoleh buah-buahan dan apa saja yang mereka inginkan.


Ayat (58)

سَلٰمٌۗ قَوْلًا مِّنْ رَّبٍّ رَّحِيْمٍ

Salāmun qaulam mir rabbir raḥīm(in).

(Kepada mereka dikatakan,) “Salam sejahtera” sebagai ucapan dari Tuhan Yang Maha Penyayang.


Ayat (59)

وَامْتَازُوا الْيَوْمَ اَيُّهَا الْمُجْرِمُوْنَ

Wamtāzul-yauma ayyuhal-mujrimūn(a).

(Dikatakan kepada orang-orang kafir,) “Berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, wahai para pendurhaka!


Ayat (60)

۞ اَلَمْ اَعْهَدْ اِلَيْكُمْ يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ اَنْ لَّا تَعْبُدُوا الشَّيْطٰنَۚ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

Alam a‘had ilaikum yā banī ādama allā ta‘budusy-syaiṭān(a), innahū lakum ‘aduwwum mubīn(un).

Bukankah Aku telah berpesan kepadamu dengan sungguh-sungguh, wahai anak cucu Adam, bahwa janganlah kamu menyembah setan? Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu.


Ayat (61)

وَاَنِ اعْبُدُوْنِيْ ۗهٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيْمٌ

Wa ani‘budūnī, hāżā ṣirāṭum mustaqīm(un).

(Begitu juga bahwa) sembahlah Aku. Inilah jalan yang lurus.”


Ayat (62)

وَلَقَدْ اَضَلَّ مِنْكُمْ جِبِلًّا كَثِيْرًا ۗاَفَلَمْ تَكُوْنُوْا تَعْقِلُوْنَ

Wa laqad aḍalla minkum jibillan kaṡīrā(n), afalam takūnū ta‘qilūn(a).

Sungguh, ia (setan itu) benar-benar telah menyesatkan sangat banyak orang dari kamu. Maka, apakah kamu tidak mengerti?


Ayat (63)

هٰذِهٖ جَهَنَّمُ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ

Hāżihī jahannamul-latī kuntum tū‘adūn(a).

Inilah (neraka) Jahanam yang dahulu telah diperingatkan kepadamu.


Ayat (64)

اِصْلَوْهَا الْيَوْمَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُوْنَ

Iṣlauhal-yauma bimā kuntum takfurūn(a).

Masuklah ke dalamnya pada hari ini karena dahulu kamu mengingkarinya.


Ayat (65)

اَلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلٰٓى اَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ اَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ اَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Al-yauma nakhtimu ‘alā afwāhihim wa tukallimunā aidīhim wa tasyhadu arjuluhum bimā kānū yaksibūn(a).

Pada hari ini Kami membungkam mulut mereka. Tangan merekalah yang berkata kepada Kami dan kaki merekalah yang akan bersaksi terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.


Ayat (66)

وَلَوْ نَشَاۤءُ لَطَمَسْنَا عَلٰٓى اَعْيُنِهِمْ فَاسْتَبَقُوا الصِّرَاطَ فَاَنّٰى يُبْصِرُوْنَ

Wa lau nasyā’u laṭamasnā ‘alā a‘yunihim fastabaquṣ-ṣirāṭa fa annā yubṣirūn(a).

Seandainya Kami menghendaki, pastilah Kami akan menghapus penglihatan (membutakan) mereka sehingga mereka berlomba-lomba (mencari) jalan (selamat). Maka, bagaimana mungkin mereka dapat melihat?


Ayat (67)

وَلَوْ نَشَاۤءُ لَمَسَخْنٰهُمْ عَلٰى مَكَانَتِهِمْ فَمَا اسْتَطَاعُوْا مُضِيًّا وَّلَا يَرْجِعُوْنَ ࣖ

Wa lau nasyā’u lamasakhnāhum ‘alā makānatihim famastaṭā‘ū muḍiyyaw wa lā yarji‘ūn(a).

Seandainya Kami menghendaki, pastilah Kami akan mengubah bentuk mereka di tempat mereka berada, sehingga mereka tidak sanggup meneruskan perjalanan dan juga tidak sanggup pulang kembali.


Ayat (68)

وَمَنْ نُّعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِى الْخَلْقِۗ اَفَلَا يَعْقِلُوْنَ

Wa man nu‘ammirhu nunakkishu fil-khalq(i), afalā ya‘qilūn(a).

Siapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami balik proses penciptaannya (dari kuat menuju lemah). Maka, apakah mereka tidak mengerti?


Ayat (69)

وَمَا عَلَّمْنٰهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْۢبَغِيْ لَهٗ ۗاِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ وَّقُرْاٰنٌ مُّبِيْنٌ ۙ

Wa mā ‘allamnāhusy-syi‘ra wa mā yambagī lah(ū), in huwa illā żikruw wa qur’ānum mubīn(un).

Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Nabi Muhammad) dan (bersyair) itu tidaklah pantas baginya. (Wahyu yang Kami turunkan kepadanya) itu tidak lain hanyalah pelajaran dan Al-Qur’an yang jelas,


Ayat (70)

لِّيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَّيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ

Liyunżira man kāna ḥayyaw wa yaḥiqqal-qaulu ‘alal-kāfirīn(a).

agar dia (Nabi Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan agar ketetapan (azab) terhadap orang-orang kafir itu menjadi pasti.


Ayat (71)

اَوَلَمْ يَرَوْا اَنَّا خَلَقْنَا لَهُمْ مِّمَّا عَمِلَتْ اَيْدِيْنَآ اَنْعَامًا فَهُمْ لَهَا مٰلِكُوْنَ

Awalam yarau annā khalaqnā lahum mimmā ‘amilat aidīnā an‘āman fahum lahā mālikūn(a).

Tidakkah mereka mengetahui bahwa Kami telah menciptakan untuk mereka hewan-hewan ternak dari ciptaan tangan Kami (sendiri), lalu mereka menjadi pemiliknya?


Ayat (72)

وَذَلَّلْنٰهَا لَهُمْ فَمِنْهَا رَكُوْبُهُمْ وَمِنْهَا يَأْكُلُوْنَ

Wa żallalnāhā lahum fa minhā rakūbuhum wa minhā ya’kulūn(a).

Kami menjadikannya (hewan-hewan itu) tunduk kepada mereka. Sebagian di antaranya menjadi tunggangan mereka dan sebagian (lagi) mereka makan.


Ayat (73)

وَلَهُمْ فِيْهَا مَنَافِعُ وَمَشَارِبُۗ اَفَلَا يَشْكُرُوْنَ

Wa lahum fīhā manāfi‘u wa masyārib(u), afalā yasykurūn(a).

Pada dirinya (hewan-hewan ternak itu) terdapat berbagai manfaat dan minuman untuk mereka. Apakah mereka tidak bersyukur?


Ayat (74)

وَاتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اٰلِهَةً لَّعَلَّهُمْ يُنْصَرُوْنَ ۗ

Wattakhażū min dūnillāhi ālihatal la‘allahum yunṣarūn(a).

Mereka menjadikan sesembahan selain Allah agar mereka mendapat pertolongan.


Ayat (75)

لَا يَسْتَطِيْعُوْنَ نَصْرَهُمْۙ وَهُمْ لَهُمْ جُنْدٌ مُّحْضَرُوْنَ

Lā yastaṭī‘ūna naṣrahum, wa hum lahum jundum muḥḍarūn(a).

(Sesembahan) itu tidak mampu menolong mereka, padahal (sesembahan) itu adalah tentara yang dihadirkan untuk menjaganya.


Ayat (76)

فَلَا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْ ۘاِنَّا نَعْلَمُ مَا يُسِرُّوْنَ وَمَا يُعْلِنُوْنَ

Falā yaḥzunka qauluhum, innā na‘lamu mā yusirrūna wa mā yu‘linūn(a).

Maka, jangan sampai ucapan mereka membuat engkau (Nabi Muhammad) bersedih hati. Sesungguhnya Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan.


Ayat (77)

اَوَلَمْ يَرَ الْاِنْسَانُ اَنَّا خَلَقْنٰهُ مِنْ نُّطْفَةٍ فَاِذَا هُوَ خَصِيْمٌ مُّبِيْنٌ

Awalam yaral-insānu annā khalaqnāhu min nuṭfatin fa’iżā huwa khaṣīmum mubīn(un).

Tidakkah manusia mengetahui bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani? Kemudian tiba-tiba saja dia menjadi musuh yang nyata.


Ayat (78)

وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَّنَسِيَ خَلْقَهٗۗ قَالَ مَنْ يُّحْيِ الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيْمٌ

Wa ḍaraba lanā maṡalaw wa nasiya khalqah(ū), qāla may yuḥyil-‘iẓāma wa hiya ramīm(un).

Dia membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan asal penciptaannya. Dia berkata, “Siapakah yang bisa menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?”


Ayat (79)

قُلْ يُحْيِيْهَا الَّذِيْٓ اَنْشَاَهَآ اَوَّلَ مَرَّةٍ ۗوَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيْمٌ ۙ

Qul yuḥyīhal-lażī ansya’ahā awwala marrah(tin), wa huwa bikulli khalqin ‘alīm(un).

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Yang akan menghidupkannya adalah Zat yang menciptakannya pertama kali. Dia Maha Mengetahui setiap makhluk.


Ayat (80)

ۨالَّذِيْ جَعَلَ لَكُمْ مِّنَ الشَّجَرِ الْاَخْضَرِ نَارًاۙ فَاِذَآ اَنْتُمْ مِّنْهُ تُوْقِدُوْنَ

Allażī ja‘ala lakum minasy-syajaril-akhḍari nārā(n), fa’iżā antum minhu tūqidūn(a).

(Dialah) yang menjadikan api untukmu dari kayu yang hijau. Kemudian, seketika itu kamu menyalakan (api) darinya.”


Ayat (81)

اَوَلَيْسَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ بِقٰدِرٍ عَلٰٓى اَنْ يَّخْلُقَ مِثْلَهُمْ ۗبَلٰى وَهُوَ الْخَلّٰقُ الْعَلِيْمُ

Awa laisal-lażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa biqādirin ‘alā ay yakhluqa miṡlahum, balā wa huwal-khallāqul-‘alīm(u).

Bukankah Zat yang menciptakan langit dan bumi mampu menciptakan manusia yang serupa mereka itu (di akhirat kelak)? Benar. Dialah yang Maha Banyak Mencipta lagi Maha Mengetahui.


Ayat (82)

اِنَّمَآ اَمْرُهٗٓ اِذَآ اَرَادَ شَيْـًٔاۖ اَنْ يَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ

Innamā amruhū iżā arāda syai’an ay yaqūla lahū kun fa yakūn(u).

Sesungguhnya ketetapan-Nya, jika Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka, jadilah (sesuatu) itu.


Ayat (83)

فَسُبْحٰنَ الَّذِيْ بِيَدِهٖ مَلَكُوْتُ كُلِّ شَيْءٍ وَّاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ ࣖ

Fa subḥānal-lażī biyadihī malakūtu kulli syai’iw wa ilaihi turja‘ūn(a).

Maka, Mahasuci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya kamu dikembalikan.


Arti Ayat 1 Surat Yasin

Dinamakan surat Yasin karena surat ini dimulai dengan dua huruf abjad Arab yaitu huruf "Ya" huruf "Sin". Dan dua huruf abjad Arab ini termasuk ayat pertama di dalam surat Yasin. Arti dari huruf Abjad Ya sin Sama seperti arti dari huruf-huruf abjad arab lainnya seperti Alif Lam Mim, Alif Lam Ro, Nun, qooff dll yang mempunyai arti tersembunyi yang tidak bisa di tebak-tebak artinya. Biasanya huruf-huruf ini terletak pada ayat pertama beberapa surat di Alquran, sehingga arti dari Ya Sin termasuk dalam ayat mutasyaabihat.

Imam al-Suyuti dalam kitab Al Itqan menjelaskan bahwa "mutasyaabihat" merupakan ayat yang maknanya tidak jelas. Dikutip dari repository UIN Ar Raniry, Banda Aceh, tidak ditemukan dalil yang kuat untuk memastikan pengertian Ya Sin dalam surat Yasin ayat 1 ini.

Sejarah Diturunkan Surat Yasin

Surat Yasin (dalam bahasa Arab : يٰسٓ) merupakan firman Allah SWT yang tertuang di dalam mushaf Alquran juz 22 dan juz 23. Surat yasin ini diturunkan pada periode pertengahan di kota Makkah (sebelum hijrah ke Madinah) sehingga surat Yasin ini termasuk surat Makiyah.

Kandungan di dalam surat yasin ini banyak menjelaskan tentang akidah, keimanan dan kehidupan akhirat. Melansir dari digilib.uinsbt.ac.id, Nabi Muhammad menyerukan kepada pengikutnya untuk menghafal dan membaca surat yasin sebanyak-banyaknya.

Sama seperti surat-surat lainnya didalam Alquran, Surat Yasin juga mempunyai sejarah saat diturunakan kepada Nabi Muhammad SAW. Berikut ini beberapa sejarah diturunkan surat Yasin

1. Sejarah Surat Yasin Ayat 8

Surat Yasin Sering disebut juga sebagai jantungnya Al-Qur’an. Di dalam surat Yasin ini, ada salah satu ayat yang menarik untuk dibahas karena turunnya ayat ini berkaitan dengan kondisi pada saat itu kaum kafir Makkah dan sikap kerasnya terhadap Rasulullah SAW.

Allah berfirman dalam Surat Yasin Ayat 8 :

اِنَّا جَعَلۡنَا فِىۡۤ اَعۡنَاقِهِمۡ اَغۡلٰلًا فَهِىَ اِلَى الۡاَ ذۡقَانِ فَهُمۡ مُّقۡمَحُوۡنَ

Innaa ja’alnaa fiii a’naaqihim aghlaalan fahiya ilal azqooni fahum muqmahuun.

Artinya : “sesungguhnya, Kami Allah telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, karena itu mereka bertengadah.” (QS Yasin Ayat 8).

Menurut riwayat tafsir, pada mulanya diturunkan ayat ini (Surat Yasin ayat 8) berhubungan dengan niat Abu Jahal bersama dua orang temannya yang berasal dari Bani Makhzum yang ingin mencelakai Nabi Muhammad SAW.

Suatu ketika, Abu Jahal pernah bersumpah dihadapan orang-orang kafir, isi sumpahnya apabila melihat Muhammad sedang sholat di Baitullah, dia akan menjatuhkan batu besar ke atas kepala Nabi Muhammad SAW.

Pada suatu hari, dilihatnya Nabi Muhammad sedang sujud di Baitullah, di tangannya Abu Jahal sudah tersedia batu yang cukup besar. Ketika batu itu diangkat dan akan dilemparkan ke arah Nabi Muhammad yang sedang bersujud, tiba-tiba dia menjadi ragu-ragu untuk melemparkan batu tersebut dan batu itu terlepas dari pegangan tangannya. Lalu, Abu Jahal kembali kepada orang-orang kafir dan menceritakan apa yang terjadi kepadanya.

Mendengar cerita dari Abu Jahal, di lain waktu ada pula seseorang dari Bani Makhzum ingin melempar Nabi Muhammad pada saat beliau akan menunaikan sholat.
Ketika dia hendak melaksanakan niat jahatnya kepada Nabi Muhammad, Lalu Allah membutakan matanya, dan dia kembali kepada orang-orang kafir dalam keadaan buta.

Seorang Bani Makhzum tersebut menceritakan bahwa ketika hendak melaksanakan niat jahatnya, tiba-tiba muncul seekor binatang besar dihadapannya yang siap menerkam dirinya. Seandainya batu besar itu dia lemparkan, Niscaya binatang besar itu pasti akan menerkam dirinya.

Ada juga yang mengatakan bahwa makna belenggu di sini adalah arti Majazi (kiasan) saja. Jadi yang dimaksud dengan belenggu adalah penghalang yang menghalangi niat seseorang untuk beriman kepada Allah.

2. Sejarah Surat Yasin Ayat 9

وَجَعَلْنَا مِنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ سَدًّا وَّمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَاَغْشَيْنٰهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُوْنَ

Wa ja‘alnā mim baini aidīhim saddaw wa min khalfihim saddan fa agsyaināhum fahum lā yubṣirūn(a).

Kami Allah memasang penghalang di hadapan mereka dan di belakang mereka, sehingga Kami Allah menutupi (pandangan) mereka. Mereka pun tidak dapat melihat kebenaran.

Dalam tafsir dijelaskan bahwa ayat ini (QS Yasin ayat 9) menceritakan pada suatu saat ada sekelompok orang kafir sedang bermusyawarah merencanakan aksi untuk menculik nabi Muhammad SAW. Saat mereka hendak melaksanakan aksinya untuk menculik Nabi Muhammad SAW di rumah nabi, saat itu juga Allah langsung menutupi pada penglihatan mereka sehingga akhirnya mereka mengantuk dan tertidur.

Saat itu nabi Muhammad SAW bersama Ali sedang berada di dalam rumahnya nabi, lalu nabi Muhammad SAW pergi tanpa sepengetahuan orang kafir karena saat itu orang kafir sedang tertidur. Dan Ali tidur di dalam rumah Nabi menggantikan nabi. Akhirnya Nabi pergi dan Ali tidur di dalam rumah Nabi Muhammad SAW. 

Ketika orang-orang kafir bangun dari tidurnya, lalu mereka mencari dan masuk ke dalam rumah nabi namun mereka tidak menemukan nabi Muhammad SAW, mereka hanya menemukan Ali yang sedang tidur. 

11 Manfaat dan Keutamaan Membaca Surat Yasin

Surat Yasin merupakan Kalam atau firman Allah SWT yang tertulis di dalam Mushaf Alquran. Banyak riwayat yang menyebutkan bahwa jika seseorang muslim rutin membaca surat yasin maka akan mendapat pahala serta mendapatkan banyak keutamaan.

Bagi seorang hamba Allah, jika merutinkan membaca surat yasin baik diwaktu pagi, siang atau sore hari maka allah akan memberi pahala sama seperti hamba tersebut menghatamkan 10 kali membaca Alquran.

Berikut hadist yang menjelaskan tentang Manfaat dan Keutamaan Membaca Surat Yasin

1. Dimudahkan Segala Urusan

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa setiap ada perkara yang sulit, setiap ada musibah dan setiap ada malapetaka dibacakan Surat Yasin maka Allah akan memudahkan perkara itu.

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan sebagai berikut :

وَلِهَذَا قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ: مِنْ خَصَائِصِ هَذِهِ السُّورَةِ: أَنَّهَا لَا تُقْرَأُ عِنْدَ أَمْرٍ عَسِيرٍ إِلَّا يَسَّرَهُ اللَّهُ. وَكَأَنَّ قِرَاءَتَهَا عِنْدَ الْمَيِّتِ لِتُنْزِلَ الرَّحْمَةَ وَالْبَرَكَةَ، وَلِيَسْهُلَ عَلَيْهِ خُرُوجُ الرُّوحِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

walihadzaa qoola ba'dhul ulamaa' : min khoshooish hadzihis suroh : annahaa la tuqrou inda amrin asiir illaa yassarohullah. wakaanna qiroo ataha indalmayyiti litunzilarrohmata walbarokah, waliyashulu alaihi khurujurrukh, wallahu a'lam(u)

Artinya : “Di antara keistimewaan surat ini (surat Yasin), sesungguhnya tidaklah ketika surat Yasin dibacakan pada suatu perkara suit, melainkan Allah SWT akan memudahkan perkara sulit tersebut. Dan ketika surat Yasin ini dibacakan disisi seseorang yang menghadapi sakaratul maut, maka turun rahmat dan berkah dan memudahkan baginya keluarnya ruh.

2. Dikabulkan Setiap Hajatnya

Manfaat membaca Surat Yasin secara rutin lainnya adalah Allah akan mengabulkan hajat atau keperluan hamba tersebut. Sebagaimana di riwayatkan dalam Hadits Abu Daud sebagai berikut:

من قرأ سورة يس والصافات ليلة الجمعة أعطاه الله سؤله

man qoroa suurotun yasiin washofatil lailatul jumuu‘ah a'thoohullahu saulah

Artinya: “Barang siapa yang membaca surat Yasin dan al-Shaffat di malam Jumat, Allah akan mengabulkan permintaannya.” (HR Abu Daud dari al-Habr)

3. Mendapat Pahala 10 kali Khatam Membaca Alquran

Manfaat merutinkan membaca Surat Yasin lainnya yaitu akan mendapat banyak pahala. Ada suatu hadits yang menjelaskan bahwa Baranng siapa yang membaca surat yasin maka akan mendapatkan pahala sama seperti mendapatkan pahala membaca 10 khatam Alquran.

Berikut bunyi haditsnya: 

عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبًا، وَقَلْبُ الْقُرْآنِ يس. ومَنْ قَرَأَ يس كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِقِرَاءَتِهَا قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ عَشْرَ مَرَّاتٍ".

‘an qotaadah, ‘an anas qoola: qoola rosulullahi sholallahu ‘alaihi wasallam : inna likulli syaiin qolban, waqolbul qurani yasiin, wa man qoroa yasiin kataballahu lahu biqirooatal qurani ‘assyro marrot(in)

Dari Qatadah, dari Anas RA yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: "Sesungguhnya segala sesuatu itu mempunyai kalbu (inti) dan kalbu Al Quran adalah surat Yasin. Dan barang siapa yang membaca surat Yasin, maka Allah akan mencatat baginya karena bacaan surat Yasin tersebut pahala membaca Alquran 10 kali khatam.

4. Mendapat kebahagiaan Dunia

Orang yang membaca Surat Yasin secara rutin juga akan mendapatkan manfaatnya yaitu akan mendapatkan kebahagiaan sepanjang hari. Seperti hadits riwayat yahya Ibnu Katsir dibawah ini

وَعن يحيى بن كثير قال : “بَلَغَنَا أَنهُ مَنْ قَرَأَ يس حيْنَ يُصْبحُ لَمْ يَزَلْ فيْ فَرَح حتَى يُمْسيَ وَمَنْ قَرَأَهَا حيْنَ يُمْسي لَمْ يَزَلْ في فَرَح حَتَى يُصْبحَ”

waa'n yakhya ibni katsiir qoola : balaghonaa annahu man qoroa yasin khiina yushbakhu lam yazal fii farokha khatta yumsii waman qoroahaa khiina yumsii lam yazal fii farokha khatta yushbakha

Artinya: Diriwayatkan dari Yahya Ibnu Katsir dia berkata “Telah sampai padaku sebuah sabda Rasul bahwa sesungguhnya barang siapa yang membaca surat Yasin pada waktu pagi, maka ia senantiasa memperoleh kegembiraan sampai sore, dan jika ia membacanya di sore hari maka ia senantiasa dapat gembira sampai pagi keesokan harinya.

5. Mendatangkan Syafaat

Manfaat merutinkan membaca Surat Yasin selanjutnya yaitu akan mendatangkan syafaat bagi yang membaca baik di dunia maupun di akhirat. Hal ini disebutkan di dalam hadits Tafsir Ruhul Al Bayan dibawah ini :

وفي الحديث : “ إنَّ فِي الْقُرْآنِ لَسُوْرةٌ تَشْفَعُ لِقَارِئِها وَيَغْفِرُ لِسَامِعِهَا تُدْعَى فِي التوراةِ الْمُعِمَّةَ”

wafill khadits : inna filqurani lasurotun tasyfau' liqoori ihaa wayagfiru lisaamii'haa tud'a' fittaurotil mui'mmah

Artinya: Dalam Hadits disebutkan “sesungguhnya di dalam Al Quran terdapat suatu surat yang dapat memberi syafaat bagi pembacanya, memberi ampunan bagi yang mendengarnya.

6. Dilimpahkan Kebaikan Dunia dan Akhirat

Manfaat merutinkan membaca Surat yasin juga akan mendapatkan limpahan kebaikan di dunia dan akhirat. Seperti bunyi hadits dibawah ini :

“تَعمُّ صاحِبَها بِخيْرِ الدَّارَيْنِ وَتدْفَعُ عنْهُ أهَاوِيْلَ الآخِرةِ َ”

Taa'mmu shookhibaha bikhoirid daaroin watad'fau a'nhu ahaawiilal akhiroh

Artinya: Surat Yasin melimpahkan kepada pembacanya kebaikan dunia dan akhirat.

7. Menolak Kejahatan dan Bencana

Surat Yasin yang rutin dibaca juga dapat menjadi wasilah untuk menolak kejahatan dan bencana serta kesedihan di akhirat.

تدفَعُ عَنْ صاحِبِهَا كُلَّ سُوْءٍ وتَقْضِي لَهُ كُلَّ حَاجةٍ وَتُدْعَى الدَّافعَةَ والقَاضِيَة

tadfau a'n shookhibiha kulla suuin wataqdhii lahu kulla khaa jatin watud'adda faaata wa qo dhiyah

Artinya: (Surat Yasin) dapat menolak bencana dan kesedihan akhirat dan semua kejahatan, juga dapat memenuhi semua keperluannya.

8. Diampuni Dosa-dosa Kecil

Manfaat Membaca Surat yasin secara rutin bisa menghapus dosa-dosa kecil yang dilakukan seorang hamba, Seperti sabda nabi Muhammad SAW dibawah ini :

قعَنِ الْحَسَنِ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَنْ قَرَأَ يس فِي لَيْلَةٍ أَصْبَحَ مَغْفُورًا لَهُ. وَمَنْ قَرَأَ: "حم" الَّتِي فِيهَا الدُّخَانُ أَصْبَحَ مَغْفُورًا لَهُ"

qoa'anil khasan qoola : sami'tu abaa hurairoh yaquul(u) : qoola rasulullahi sholallahualaihi wasallam : man qoroa yasin fi lailatin ashbakha magfurol lah(u) : "kha mim" allatii fiiha addukhoonu ashbakha magfurollah(u)

Artinya: Dari Hasan yang mengatakan bahwa dia pernah mendengar Abu Hurairah R.A. berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: Barang siapa yang membaca surat Yasin di malam hari, pada keesokan harinya dia diampuni oleh Allah. Dan barang siapa yang membaca Ha Mim yang di dalamnya disebutkan Dukhan (surat Ad-Dukhan), maka pada pagi harinya dia akan diampuni".

9. Dimudahkan Saat Menghadapi Sakaratul Maut

Manfaat Membaca Surat Yasin secara rutin untuk orang sakit yang sedang menghadapi sakaratul maut disebutkan dalam hadits bahwa orang yang sakit tersebut akan mendapatkan rahmat dan dimudahkan saat rohnya keluar dari jasad. Seperti hadits Sabda Rasulullah SAW dibawah ini :

عَنْ مَعْقِل بْنِ يَسَار قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "اقرؤوها عَلَى مَوْتَاكُمْ" -يَعْنِي: يس

‘an ma'qil ibni yasaar qoola: qoola rasulullahi sholallahualaihi wasallam : iqrouu haa ala mautaakum - ya,ni : yasiin

Dari Ma'qal ibnu Yasar R.A mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: Bacakanlah ia untuk orang-orang mati kalian. Yakni surat Yasin tersebut".

10. Mendapat Ampunan Dosa dari Allah

Membaca Surat yasin secara rutin juga dapat memberi manfaat bagi pengamalnya karena akan mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Seperti hadits dibwah ini

، عَنْ جُنْدَب بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَنْ قَرَأَ يس فِي لَيْلَةٍ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ، غُفِرَ لَهُ".

‘anjundab ibni ‘indillahi qoola : qoola rosulullahi sholallahu ‘alaihi wasallam : man qoroa, yasiin fi lailati betighooa wajehillah, ghufirolah.

Artinya: Dari Jundab ibnu Abdullah yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda : Barang siapa yang membaca surat Yasin di malam hari karena mengharapkan rida Allah SWT., maka diberikan ampunan baginya (dari dosa-dosanya).

11. Mendapatkan Ketenangan Hati Setelah Membacanya

Membaca surat-surat Alquran sama halnya seseorang berbicara dengan Allah, sehingga dengan membaca Alquran hati seseorang akan menjadi lebih tenang. Ada dalil yang menjelaskan bahwa "Alquran itu menjadi obat bagi manusia". Begitulah keutamaan orang-orang yang rajin membaca surat Yasin atau surat lainnya setiap hari.

Seperti firman Allah SWT, "(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat kepada Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (Ar-raad: 28).

3 Kandungan Surat Yasin

Surat yasin merupakan surat Alquran yang mempunyai 83 ayat, 29 kalimat dan 3000 huruf. Didalam surat yasin terdapat 3 kandungan surat yasin yang bisa di ambil hikmahnya, diantaranya sebagai berikut :

1. Keimanan

  • Bukti adanya hari Kebangkitan
  • Alquran bukanlah syair
  • Ilmu kekuasaan dan rahmat Allah
  • Surga dan sifat-sifat yang disediakan untuk orang-orang mukmin
  • Allah suci dari sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya
  • Anggota badan manusia akan menjadi saksi pada hari kiamat.

2. Kisah Nabi Isa

  • Kisah utusan-utusan Nabi Isa dengan penduduk Antakia (Syam).

3. Peringatan Terhadap Orang Kafir

  • Peringatan bagi orang musyrik
  • Allah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan
  • Semua jenis bintang di cakrawala berjalan pada garis edar yang telah ditentukan Allah
  • Ajal dan hari kiamat datangnya secara tiba-tiba
  • Allah menghibur hati Rasulullah saw terhadap sikap kaum musyrikin yang menyakitkan hatinya.

Doa Setelah Membaca Surat Yasin

Berikut ini merupakan bacaan doa setelah membaca Surat Yasin dalam tulisan Arab, Latin serta terjemahan bahasa Indonesia. Agar memudahkan untuk dibaca dan mengetahui artinya.

Surat Yasin memiliki banyak manfaat dan keutamaan untuk pembacanya. oleh sebab itu, Surat Yasin sering dibaca umat muslim baik setelah sholat wajib atau di acara pengajian.

Setelah membaca surat yasin yang mempunyai banyak manfaat dan keutamaan, alangkah baiknya ditutup dengan membaca doa. Bisa menggunakan doa setelah membaca alquran seperti dibawah ini atau bisa juga membaca doa setelah membaca surat yasin.

Doa Setelah Membaca Alquran

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنِىْ بِالْقُرْآنِ. وَاجْعَلْهُ لِىْ اِمَامًا وَنُوْرًا وَّهُدًى وَّرَحْمَةً. اَللّٰهُمَّ ذَكِّرْنِىْ مِنْهُ مَانَسِيْتُ وَعَلِّمْنِىْ مِنْهُ مَاجَهِلْتُ. وَارْزُقْنِىْ تِلاَ وَتَهُ آنَآءَ اللَّيْلِ وَاَطْرَافَ النَّهَارٍ. وَاجْعَلْهُ لِىْ حُجَّةً يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Allahummarhamnii bil qur’aani. waj’alhu lii imaaman wa nuuran wa hudan wa rohman. Allahumma dzakkirnii minhu maa nasiitu wa’allimnii minhu maa jahiltu. wazuqnii tilaa watahu aanaa-al laili wa athroofan nahaari. waj’alhu lii hujjatan yaa robbal ‘aalamiina.

Artinya:
“Ya Allah, rahmatilah aku dengan Al-Qur’an yang agung, jadikanlah ia bagiku cahaya petunjuk rahmat. Ya Allah, ingatkanlah apa yang telah aku lupa dan ajarkan kepadaku apa yang tidak aku ketahui darinya, anugerahkanlah padaku kesempatan membacanya pada sebagian malam dan siang, jadikanlah ia hujjah yang kuat bagiku, wahai Tuhan seru sekalian alam.”

Doa Setelah Membaca Surat Yasin

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

اللّٰهُمَّ اِنّٓا نَسْتَحْفِظُكَ وَ نَسْتَوْدِعُكَ اَدْيَانَنَا وَاَنْفُسَنَا وَاَهْلَنَا وَاَوْلَادَنَا وَاَمْوَالَنَا وَكُلِّ شَيْءٍ اَعْطَيْتَنَا. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا وَإِيَّاهُمْ فِى كَنَفِكَ وَاَمَانِكَ وَجِوَارِكَ وَعِيَاذِكَ مِن كُلِّ شَيْطَانٍ مَرِيدٍ وَجَبَّارٍ عَنِيدٍ وَذِى عَيْنٍ وَذِى بَغْيٍ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ ذِى شَرٍّ اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. اَللّٰهُمَّ جَمِّلْنَا بِالْعَافِيَةِ وَالسَّلَامَةِ وَحَقِّقنَا بِالتَّقْوٰى وَالْاِسْتِقَامَةِ وَاَعِذْناَ مِنْ مُوجِبَاتِ النَّدَامَةِ اِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاءِ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْلَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَلِاَوْلَادِنَا وَمَشَايِخِنَا وَلِاِخْوَانِنَا ِفِى الدِّينِ وَلِاَصْحَابِنَا وَاَحْبَابِنَا وَلِمَنْ اَحَبَّنَا فِيكَ وَلِمَنْ اَحْسَنَ اِلَيْنَا وَ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ يَارَبَّ العَالَمِيْنَ. وَصَلِّ اَللّٰهُمَّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ سَيِّدِنَا وَمَوْلاَناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ. وَارْزُقْنَا كَمَالَ الْمُتَابَعَةِ لَهُ وَظَاهِرًا وَبَاطِنًا فِي عَافِيَةٍ وَسَلَامَةٍ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Allahumma inna nastahfidzhuka wa nastaudi’uka diinana wa anfusanaa wa ahlanaa wa aulaadanaa wa amwaalanaa wa kulla syai’in a’thaitanaa.

Allahummaj’alnaa fii kanafika wa amaanika wa jiwaarika wa ‘iyaadzika min kulli syaithaanim mariid wa jabbaarin‘ aniid wa dzii ‘ainin wa dzii baghyin wa min syarri kulli dzii syarrin innaka ‘alaa kulli syai’in qadiir.

Allahumma jamilnaa bil’aafiyati was salaaati wa haqqiqnaa bit taqwaa wal istiqaamati wa a’idznaa min muujibaatin nadaamati innaka samii’ud du’aa’i.

Allahummaghfirlanaa wa li waalidiina wa li aulaadinaa wa li masyaa-yikhinaa wa li ikhwaaniaa fiddiini wa li ashhaabinaa wa ahbaabinaa wa liman ahabbanaa fiika wa liman ahsana ilainaa wa lil mukminiina wal mukminaati wal musliminiina wal muslimaati ya rabbal ‘aalamiin.

Wasallalhumma alaabdika warasu likasaiyadinaa wamailanaa muhammadin wa ala lihi wasabihi wasallam

Warzuqnaa kamaalal mutaaba’ati lahu zaahiran wa baathinan fii ‘aafiyatin wa salaamatin birahmatika yaa arhamar raahimiin.

Wa shallilaahumma ‘alaa ‘abdika wa rasuulika sayyidinaa muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallim.

Artinya :

“Ya Allah ya tuhan kami, kami memohon penjagaan kepada-Mu dan menitipkan kepada-Mu agama kami, dari kami, keluarga kami, anak-anak kami, harta benda kami, dan apa saja yang telah engkau berikan kepada kami.”

“Ya Allah, semoga engkau menjadikan kami dalam penjagaan, tanggungan, kedekatan dan perlindungan-Mu dari godaan setan yang menggoda, orang yang kejam, zalim dan durhaka, dan dari kejahatan penjahat, sesungguhnya engkau adalah maha kuasa atas segala sesuatu.”

“Ya Allah, baguskanlah kami dengan kesehatan dan keselamatan, dan sejatikanlah kami dengan takwa dan istiqamah, jagalah kami dari penyesalah, karena sesungguhnya Engkau maha mendengarkan doa.”

“Ya Allah ampunilah kami, kedua orang tua kami, anak-anak kami, guru-guru kami, saudara-saudara kami seagama, sahabat-sahabat kami, kekasih-kekasih kami, orang yang mengasihi kami karena Engkau, dan kepada siapa saja yang berbuat baik kepada kami, orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan dan orang-orang yang beragama Islam laki-laki dan perempuan, wahai Tuhan semesta alam.”

“Dan limpahkan kepada kami kesempurnaan mengikutinya lahir dan batin, dalam keadaan sehat dan selamat dengan rahmat-Mu wahai sebaik-baik Penyayang dari para penyayang.”

“Ya Allah limpahkanlah rahmat dan keselamatan kepada hamba dan utusan-Mu. Yaitu junjungan kami Nabi Muhammad saw. beserta para keluarga dan sahabatnya.”

Arti Pohon Hijau dalam Surat Yasin Ayat 80

Banyak kisah dan kejadian-kejadian di dalam alquran yang perlu di pahami oleh setiap muslim. Tujuannya agar mengetahui apa maksud dari arti ayat tersebut. Namun untuk memahami arti dari ayat tersebut tidak bisa hanya membaca dari terjemah saja, diperlukan ilmu tafsir yang terdapat di dalam hadist-hadist shohih.

Di dalam alquran surat yasin begitu banyak hal-hal yang tidak bisa dipahami oleh masyarakat yang awam dengan alquran. Apalagi hanya bermodalkan membaca terjemahan alquran bahasa Indonesia.  Karena logika tidak akan bisa menerima dengan mudah tanpa adanya penjelasan dari sumber-sumber lainnya.

Seperti contoh pada ayat 80 terdapat kalimat "dialah yang menciptakan api dari kayu yang hijau"

ۨالَّذِيْ جَعَلَ لَكُمْ مِّنَ الشَّجَرِ الْاَخْضَرِ نَارًاۙ فَاِذَآ اَنْتُمْ مِّنْهُ تُوْقِدُوْنَ

Allażī ja‘ala lakum minasy-syajaril-akhḍari nārā(n), fa’iżā antum minhu tūqidūn(a).

(Dialah) yang menjadikan api untukmu dari kayu yang hijau. Kemudian, seketika itu kamu menyalakan (api) darinya.”

Arti dari "Pohon Hijau" adalah sebagai Perumpamaan

Menurut al-Razi (salah satu ulama tafsir) menjelaskan bahwa pohon hijau hanyalah sebuah perumpamaan saja. 

 

 

Digunakan bertujuan untuk mempermudah pemahaman kaum Arab yang saat itu identik dengan penggunaan kayu bakar sebagai kebutuhan primer memasak. Kebiasaan manusia melihat kayu kering dijadikan sebagai bahan bakar memasak, namun Allah menyalakan api dari pohon yang hijau dan masih basah. 

Perbedaan yang sangat sulit untuk diterima akal manusia. Mana ada pohon hijau nan basah dapat mengeluarkan api hanya dengan saling digesekkan? Padahal pohon yang kering saja masih membutuhkan minyak gas dan korek api untuk menciptakan api. 

      

Hal ini dijelaskan oleh al-Razi yang dikenal dengan ilmu balaghahnya, bahwa pohon yang kering sangat mustahil meneteskan air dari dalam dirinya. Namun hal tersebut benar adanya dalam kehidupan nyata, terlihat pada kayu bakar yang digunakan untuk memasak. 

Kayu yang telah kering ketika dibakar akan mengeluarkan air bersamaan dengan api. Namun, air tersebut tidak menjadikan api padam. Padahal kalau diselaraskan dengan otak manusia, tidak bisa api bersanding dengan air. 

Karena sejatinya api musuh air, di mana ada api disandingkan dengan air, maka api itu akan padam. Dari sini disebutkan oleh al-Razi bahwa pohon yang semula hijau dan berubah menjadi kering, tetap akan mengalirkan air dalam dirinya. Hal ini menguatkan bahwa Allah SWT akan menghidupkan orang yang mati nanti ketika hari kiamat. 

Kekuasaan Allah SWT

Ayat ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa Allah SWT memiliki kuasa akan segala sesuatu. Tidak ada yang mustahil bagi-Nya, apalagi menciptakan sesuatu yang tidak selaras dengan logika manusia. Hal ini dikarenakan sifat air yang sejuk digunakan untuk memadamkan api. 

Namun dalam ayat ini Allah SWT menjadikan pohon hijau dan basah untuk menghidupkan api yang sifatnya panas. Kedua unsur ini (air dan api) merupakan dua sifat yang bertentangan, dan digabungkan menjadi satu untuk menunjukkan kekuasaan Allah SWT.

Dengan perumpamaan tersebut, manusia diharapkan untuk tidak merasa heran atas apa yang diciptakan Allah. Begitu pula dengan hari kebangkitan, penciptaan fisik seseorang sangat mudah untuk dilakukan oleh Allah SWT. Karena penciptaan manusia merupakan penciptaan yang sangat mudah bagi Allah dibandingkan penciptaan langit dan bumi. 


Sedangkan langit dan bumi dapat kita nikmati hasilnya yang luas nan indah.

2022 © suratyasin.net ALL RIGHTS RESERVED